Rehat Sejenak

Pernah tidak kamu berada pada konsisi dimana ada banyak deadline yang harus kamu tuntaskan namun bingung harus memulainya dari mana? Hingga tak ada satupun yang kamu selesaikan dan hari berlalu begitu saja tanpa ada karya yang kau torehkan hari itu. Kondisi itulah yang saat ini sedang menghampiriku.

Sejak kepindahan seorang rekan kerja ke tempat yang baru, berkurang lah personil tim kami dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rutin. Sehingga ada beberapa pekerjaan yang sebelumnya tak pernah kugubris karena job sendiri pun sebenarnya sudah padat. Namun saat ini tanggung jawab itu berpindah ke pundakku. Otakku yang awalnya sudah hafal dengan rutinitas apa yang harus kukerjakan tiap bulan, tiap hari dan tiap jamnya sekarang dibuyarkan dengan tambahan pekerjaan yang harus disisipkan dalam to do listku.

Pada awalnya aku optimis bisa melakukan semuanya dan semangat untuk belajar hal baru dalam hidupku. Alhamdulillah, semuanya seakan berjalan dengan lancar di bulan pertama. Tentunya dengan tak lupa untuk memohon pertolongan dari Al-Khaliq agar dimampukan dan dimudahkan dalam segala urusan. Namun, setelah bulan kedua terlewati, semangatku seakan kendor. Pikiranku buyar. Dibenak ini begitu banyak list pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Namun ragaku tak bergeming untuk memulai. Aku bingung harus memulai dari mana.

Mungkin aku perlu rehat sejenak. Rehat dari rutinitas yang kadang menguras pikiran. Membiarkan otakku mengarungi samudra kata yang selama ini hanya terpendam dan meluap untuk ditumpahkan. Merangkai kata yang seharusnya menjadi kekuatanku sebagai seorang Intuiting Extrovert. Kemampuan yang seharusnya aku latih dan aku kembangkan. Namun dengan berbagai alasan hasrat itu seringkali kukesampingkan.

Hhhh, sepertinya menulis untukku memang sebuah bentuk terapi otak. dengan menulis aku bisa menyusun kembali pola yang seakan tak berbentuk di otakku. Dengan menulis aku bisa mengeluarkan ide-ide yang hanya terkubur di pikiranku. Setidaknya aku sudah mengeluarkannya sedikit. Sepertinya untuk hari ini cukup sebagai permulaan. Semoga besok aku bisa muncul di sini lagi ya. Dengan cerita-cerita yang sebenarnya banyak yang ingin aku tuliskan di sini.

Ayo, Semangatlah Wahai Diri!!!

Mengapa Harus Blog?

Deadline untuk tugas II NB 38 yang diusung @nulisyuk sebenarnya sudah berakhir tadi malam. Lalu, kenapa saya baru posting tulisan sekarang?Karena baru sekarang saya sempat menulis. Dengan segala kesoksibukan saya. Jadi daripada tidak sama sekali, saya lebih memilih memaksakan untuk menulis kali ini.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di postingan sebelumnya, saya senang menulis sebagai peredam berbagai ungkapan emosi. Tapi masih di tahap untuk konsumsi pribadi. Saya masih belum percaya diri membagikan tulisan-tulisan saya untuk umum. Demi memenuhi challenge kali ini, saya beranikan diri.

Lalu, kenapa saya memilih blog? Dari awal munculnya blog, saya sudah tertarik walau hanya sekedar blog walking. Saya senang membaca setiap postingan si empunya blog. Apakah itu curhatan, catatan perjalanan, puisi, atau bahkan kadang hanya sekedar celotehan tak jelas. Saya jadi bisa mendalami bahwa setiap orang itu beragam pola pikirnya. Bermacam ketertarikannya. Sampai pada tahap saya juga ingin menjadi seperti sipenulis lewat tulisan-tulisannya yang menginspirasi.

Lewat blog kita bisa tetap menginspirasi tanpa perlu memunculkan identitas asli penulis. Semua orang yang tertarik dengan blog kita bisa membaca. Baik yang punya akun maupun tidak. Kita bisa menuliskan semau kita apa yang ada dalam pikiran kita selagi tidak mengadung kata-kata yang tidak pantas. Ditambah lagi blog bisa didesain sesuai karakter atau jenis tulisan. Bisa juga bergabung dengan komunitas blog dan kopdar jika mau. Otomatis bisa menambah kawan baru, kan.

Akhirnya saya putuskan untuk membuat sebuah blog. Setelah blog dibuat, saya bingung mau menulis apa. Ditambah lagi ketidakPeDe-an membuat saya jadi maju mundur untuk posting sebuah tulisan. Kadang ada berbelas tulisan yang hanya nongkrong di draf dan tidak jadi saya posting. Saya berharap dengan adanya kelas ini saya bisa lebih produkif lagi untuk menelurkan tulisan-tulisan yang semoga menginspirasi pembaca.

Menumpahkan Emosi dengan Menulis

Ada begitu banyak emosi yang dapat dirasakan manusia. Bahagia, sedih, marah, sakit hati, kecewa dan perasaan lainnya. Adakalanya setiap loncatan emosi yang dirasakan membutuhkan tempat untuk dicurahkan. Apakah itu dengan bercerita pada sahabat, keluarga, pasangan, atau orang-orang yang rasanya nyaman untuk kita berbagi kisah. Tapi tidak setiap saat mereka bisa memberikan waktunya untuk mendengarkan keluh kesah kita.

Bagi saya menulis adalah salah satu wadah untuk meluapkan segala perasan itu. Saya bukanlah orang yang mudah berbagi perasaan pada seseorang. Kecuali pasangan sendiri. Namun karena kita adalah peribadi yang bereda, terkadang justru pasanganlah yang memicu ledakan emosi itu datang. Ya wajar lah ujian dalam sebuah rumah tangga. Semoga setiap ujian menjadi penguat cinta pada Sang Pencipta.

Dulu menulis seolah menjadi terapi tersendiri untuk jiwa saya. Tak jarang ketika menemukan ganjalan dihati, saya segera mangambil pena dan menulis di secarik kertas. Saya bebas menuliskan apa saja yang saya rasakan. Seolah menuliskan curahan hati, perasaan ikut ruah melelehkan air mata atau bahkan senyuman-senyuman kecil. Dengan menulis perasaan menjadi lebih lapang. Semua himpitan seakan berkurang. Setelah puas, saya akan menutupnya dengan do’a dan harapan kepada yang menggenggam hati manusia. Terkadang saya malu sendiri dengan apa yang sudah saya tulis den segera meremuk kertas lalu membuangnya.

Tapi itu dulu. Sebelum ada amanah baru yang saya pegang. Amanah menjadi istri, ibu dari bayi, batita dan balita sekaligus seolah menggeser hobi-hobi saya termasuk menulis. Belum lagi ketika deadline di kantor secara beruntun menuntut untuk segera dirampungkan. Oh, betapa rindunya saya untuk bisa menulis lagi.

Bersyukur @nulisyuk hadir dengan tema blog. Seketika saya ingat dengan blog yang sudah lama saya tinggalkan ini. Semoga dengan kelas ini bisa kuisi lagi ruang yang kosong di sini. Setidaknya bisa memaksa saya untuk menari dalam kata-kata lagi. Karena sesuatu untuk yang baik terkadang harus dipaksakan.